Perpustakaan UIN Jurai Siwo Lampung
Sisi lain Diponegoro :babad kedung kebo dan historiografi perang jawa
Isu legitimasi kekuasaan menjadi hal yang diperdebatkan dengan seru. Apakah sang Pangeran murni memperjuangkan kebenaran sebagai Ratu Adil atau sebenarnya dimakan kepongahan kekuasaaan alias pamrih? Bagi musuh bebuyutan Diponegoro di Bagelen, Raden Adipati Cokronegoro I, bupati perdana Purworejo pascaperang (men jabat 1831-1856), jawaban sudah jelas: Diponegoro seorang yang hebat tapi memiliki kelemahan fatal: ambisi dan keangkuhan.
Dalam naskah yang ditulis Cokronegoro dengan bantuan mantan panglima Diponegoro di Bagelen, Basah Pengalasan, Babad Kedung Kebo (1843), Cokronegoro se perti menjawab otobiografi sang Pangeran. Versi sejarah Perang Jawa ini mem be nar kan pilihan Cokronegoro untuk memihak kepada Belanda. Kekua saan kolonial baru yang bercokol telah menjadi masa depan bangsa dan belum saatnya untuk meng usir kaum penjajah. Maka mengharapkan muncul seorang Juru Selamat alias Ratu Adil amat terlalu dini.
Buku ini, yang didasarkan pada dua tulisan kunci pakar Perang Jawa, Peter Carey, pada pertengahan 1970-an, tentang Babad Kedung Kebo dan historiografi Jawa, merupakan pengantar inspiratif untuk sejarawan. Buku ini mengajak kita untuk mengerti bahwa sejarah Jawa pada awal abad ke-19 sangat beraneka ragam dan historiografi lokal sangat kaya. Tulisan Cokronegoro juga memperingatkan kita bahwa tidak ada satu versi sejarah yang benar. Babad Kedung Kebo menjadi salah satu bahan yang mengukir dunia Jawa.
Informasi Detail
- Penerbit
- Jakarta : Kepustakaan Populer Gramedia., 2018
- Deskripsi Fisik
- xii, 278 hal. : il. ; 20 cm.
- Bahasa
- Indonesia
- ISBN/ISSN
- 9786024246808
- Klasifikasi
- 959.802 2
- Subjek
Komentar
Anda harus masuk sebelum memberikan komentar